Kuntilanak: Usaha Membumikan Hantu
Oleh: Muji Arso
Dari judulnya, film ini menjanjikan sebuah horor yang membumi, meng-Indonesia, setelah sejumlah film serupa yang hadir sebelumnya seolah tak berpijak. Orang tersedot ke dalam cermin (Di Sini Ada Setan), misalnya, sama sekali bukan horor yang pernah kita kenal dalam konteks Indonesia maupun, misalnya, Jawa. Sedangkan hantu muncul dari dalam bath up, dengan rambut panjang terurai ke mana-mana, hanyalah kelatahan generasi filmmaker yang terlalu terpesona dengan estetika horor Jepang.Kuntilanak, sekali lagi dari judulnya, membuat kita berharap akan mampu mengobati kerinduan pada film horor yang menyentuh emosi “kedekatan”. Sebab, meskipun ketakutan adalah sensasi yang universal, hantu bersifat kontekstual. Di Amerika pasti tidak ada sundel bolong, di Jepang hantu muncul dari tayangan video, dan di Indonesia hantu berdiam di pohon besar.

Karya kesekian dari duet Rizal Mantovani (sutradara) dan Ve Handojo (skenario) ini, dari awal berhasil menyentuh emosi kedekatan saya karena mengambil budaya dan alam pikiran Jawa sebagai setting. Saya yang waktu duduk di bangku SD menjuarai lomba menembang macapat, terbengong-bengong (baca: takjub) mendengar informasi bahwa tembang Durmo bisa digunakan untuk memanggil kuntilanak. Seketika, film ini kemudian menyeret saya dalam kubangan pertanyaan besar yang sangat mendasar: apakah kuntilanak itu sendiri hantu Jawa?

Film ini dibangun dari premis yang sederhana: Sam (Julie Estelle) pindah kos ke sebuah bangunan tua yang angker. Ibu kos yang misterius menjelaskan ini dan itu, lalu tiba-tiba bertanya, “Apakah kamu senang berdoa?” Saya senang dengan dialog seperti ini, tapi kok rasanya lepas konteks. Orang yang lahir dan besar di Indonesia, apalagi Jawa, tidak berbicara dengan cara, nada, gaya dan isi seperti itu.

Selanjutnya, obrolan sampai pada soal kuntilanak, yang konon berumah di pohon besar tengah kuburan yang terlihat dari jendela kamar. Dari obrolan tentang hal itu, sang ibu kos lalu melagukan tembang yang konon bisa memanggil kuntilanak. Sam merasakan hawa yang ganjil, tapi ibu kos itu dengan enteng bilang, “Kuntilanak itu hanya mitos.”

Belakangan baru diketahui bahwa kesembronoan sang ibu kos menembang Durmo itu berakibat fatal, karena membangkitkan sesuatu yang telah lama terkubur. Jadi, kalau tadi dikatakan, premisnya sederhana, maka yang menarik adalah konteks yang melingkupinya. Bangunan tua itu dulu bekas pabrik batik yang terbakar, dan menewaskan semua penghuninya. Pabrik itu milik sebuah keluarga besar ningrat Jawa. Tapi, ada yang menduga, lebih dari sekedar pabrik batik, di situ merupakan pusat sebuah aliran sesat.

Ambiguitas itu menarik, dan unsur ke-Jawa-an itu sebenarnya bisa menjadi daya pikat yang membuat film ini berbeda dibandingkan horor-horor yang pernah ada. Seandainya pembuatnya bisa melakukannya. Tapi, yang terlihat sebaliknya, justru faktor Jawa itu kemudian menjadi titik terlemah yang membuat orang mempertanyakan begitu banyak hal dalam film ini. Termasuk, logika-logika dasar tentang dunia hantu.

 

***

 

Dari awal, film ini mencoba merangkai kisah horornya dengan sesuatu yang bersifat penjelasan “historis” dan “ilmiah”. Misalnya, film ini mengetengahkan teori bahwa kuntilanak itu makluk setengah kuda setengah manusia (perempuan). Namun, dalam penampakannya, kita disuguhi hantu perempuan tua yang meng-ore rambut putihnya, berwajah menyeramkan, kadang berjalan ngesot kadang berkelebat cepat seperti main petak-umpet.

Dari awal juga disebutkan, kuntilanak itu berumah di pohon. Tapi, pada kenyataannya, ia selalu muncul dari dalam cermin yang ada di kamar-kamar kos. Akhirnya, ambisi untuk memberi penjelasan historis dan ilmiah tadi menjebak film ini sendiri ke dalam pertanyaan-pertanyaan tentang logika yang sebenarnya tidak perlu.

Dan, kalau mau konsisten dengan unsur Jawa tadi, maka masih banyak hal lain lagi yang bisa dipertanyakan. Mengikuti cara bertutur filmnya, mari sedikit sok-berteori. Dalam jagad takhayul Jawa, dikenal adanya, setidaknya, tiga jenis hantu: memedi, lelembut dan demit. Yang pertama adalah roh yang menakut-nakuti, yang kedua roh halus yang menyusup ke dalam tubuh manusia, membuat orang kesurupan, dan yang terakhir, makluk halus yang mendiami tempat tertentu.

Mau dimasukkan ke dalam jenis yang mana pun, kuntilanak sama sekali tidak dikenal dalam dunia hantu Jawa. Kalau merujuk pada hantu perempuan, maka orang Jawa hanya mengenal peri, wedon dan wewe. Menurut saya, kuntilanak dalam film ini merujuk pada wewe.

Ada dua kemungkinan: pembuat film ini tahu benar dunia hantu Jawa, atau dia tidak tahu sama sekali sehingga dengan bebas tanpa beban mereka-reka tanpa logika. Saya cenderung menduga, yang terjadi adalah kemungkinan kedua. Satu hal lagi yang menarik: film ini menampilkan dunia hantu dalam kaitan dengan pesugihan. Ini khas film horor Indonesia seperti pernah kita akrabi lewat film-film horor tempo dulu yang banyak dibintangi Suzana.

Namun, sekali lagi sayang, bagian tersebut hanya ditampilkan sepintas-lalu, dan justru kembali membuat penonton (Jawa) bertanya-tanya: apakah wewe (kuntilanak) termasuk makluk halus jenis peliharaan, seperti tuyul, untuk mencari pesugihan?

 

***

 

Dalam berbagai khasanah tentang hantu di Jawa, baik yang diceritakan secara lisan maupun yang tertulis, hantu bukanlah sosok jahat yang mengejar-ngejar orang lalu membunuh dengan kejam. Hantu hanyalah makluk yang meruhi (menampaki), dan itu saja sudah cukup membuat orang “mati ketakutan”. Tidak ada hantu yang membunuh orang dengan memelintir kepala seperti kuntilanak dalam film ini, atau hantu-hantu lain di film-film horor lain yang entah kenapa selalu saja membunuhi orang satu per satu.

Secara alur dan logika cerita film ini memang masih bolong di sana-sini dan kadang bikin kening berkerut. Kisah cinta Sam dan Agung (VJ Evan) misalnya, sama sekali tidak membantu apa-apa. Akting pemain-pemainnya juga buruk. Dan, gambar-gambar yang ditampilkan sebagian sangat besar masih khas rasa video klip.

Namun, secara umum, film ini berhasil membangun suasana dan menciptakan mood sebagai film horor yang memberi rasa takut pada penonton. Termasuk, berhasil menjaga ketegangan layaknya sebuah film detektif yang mampu menimbulkan penasaran sehingga membuat penonton betah duduk sampai akhir.

Dibandingkan dengan Mirror dan Missing, atau juga Lentera Merah, film ini lebih memenuhi kriteria, dan dengan demikian lebih layak disebut sebagai, film horor. Film ini berhasil menggeser kecenderungan film-film horor klangenan para ABG metropolis, yang hanya bisa bikin jejeritan, untuk kemudian ditertawakan. Kuntilanak menghipnotis, memaku penonton terdiam di tempat duduknya karena diam-diam merasakan ketakutan.

 http://www.layarperak.com/print.php?newsid=1162244121

 

(30 Oktober 2006)

Tulis sebuah Komentar

*
*