Arsip Bulanan: April 2008

gw waktu SMP tinggal di asrama,dari kelas 1 sampe kelas 2 ga pernah ada kejadian serem
cuma pas kelas 3 ,gw dipindahin ke kamar paling ujung karena ada anak pejabat yang mau tinggal di asrama tsb,anehnya si bapak asramanya tiap pagi suka senyum2 dan bilang”kamu anak laki2 pemberani…”
gw bingung apa maksud si bapak asrama ngomong gitu terus sama gw tiap pagi,akhirnya pas gw udah selesai ujian akhir/EBTANAS terkuaklah misteri omongan bapak asrama.
Ternyata kamar yang gw tempatin itu dulunya tempat menyemayamkan jenasah anak penghuni asrama yang tewas karena tenggelam,dan katanya lagi itu kamar aslinya angker.
Duenk gw langsung kaget ga kepalang,memang seh terus terang waktu di kamar itu tiap malam gw ngerasa ada yang mengawasi cm gw nya cuek aja…
tapi bete juga kok kesannya gw jadi kelinci percobaan kali ye sm si bapak asrama sialan hehehehe

Menapaki Jejak Mistik Kejawen
Judul Buku : Dunia Mistik Orang Jawa (Roh, Ritual, Benda Magis)
25/07/2007

Penulis : Capt. R.P. Suyono, Penerbit : LKiS Yogyakarta, Cetakan : I, Mei 2007, Tebal : vii + 280 halaman, Peresensi : M. Husnaini*

Sejarah adalah tapak yang seringkali harus ditengok karena dari situ kita dapat menengarai pola yang sama dari peristiwa yang berlainan dalam konteks  ruang dan waktu yang berbeda. Sejarah mengajak kita untuk menyadari bahwa pada akhirnya setiap peristiwa dapat tersimpan dalam benak masyarakatnya dan menjadi, tidak saja living memories, tetapi juga living traditions yang melintasi batas ruang dan waktu melalui penuturan turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sejarah juga merupakan serpihan kebenaran dan pengetahuan berserakan yang kemudian dikumpulkan, ditata ulang agar lebih bermakna dan dapat dinikmati generasi sesudahnya.

Dunia Mistik Orang Jawa adalah sebuah buku karya Capt. R.P. Suyono yang mengajak kita mengarungi lorong-lorong itu. Melalui buku ini, penulis mengundang kita berperan serta dalam menapaki jejak masa lalu guna menggali dan menemukan kembali makna sebuah sejarah yang pernah ada, menjadi bagian pengalaman hidup masyarakat. Dan, pengalaman masa lampau itu adalah seputar kehidupan orang Jawa, terutama yang terkait dengan mistik yang berkembang sejak sebelum Perang Dunia Kedua.

 

Mistik—menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia—adalah hal-hal gaib yang tidak terjangkau akal manusia, tetapi ada dan nyata. Para antropolog dan sosiolog mengartikan mistik sebagai subsistem yang ada pada hampir semua sistem religi untuk memenuhi hasrat manusia mengalami dan merasakan kebersatuan dengan Tuhan. Mistik merupakan keyakinan yang hidup dalam alam alam pikiran kolektif masyarakat. Alam kolektif akan kekal abadi, meskipun masyarakat telah berganti generasi—kecuali jika masyarakat itu telah lenyap. Demikian pula dengan mistik orang Jawa. Keyakinan itu telah hidup bersamaan dengan lahirnya masyarakat Jawa dan diturunkan dari generasi ke generasi.

 

Dunia mistik memang identik dengan orang Jawa. Tidak heran, kalau banyak buku, majalah, dan tayangan televisi yang berbau sihir, ilmu hitam, ataupun berbagai kejadian aneh, tayangan semacam itu langsung mendapat sambutan yang meriah dari khalayak. Mistik seakan sudah begitu kental, menyatu dengan masyarakat kita dan sulit untuk ter(di)pisahkan sama sekali. Berbagai keyakinan tentang adanya hantu, tempat keramat, azimat, dan santet masih menggelayuti benak mereka. Bahkan, ketika zaman kolonial—ketika orang Jawa sudah banyak yang menganut agama formal, seperti Islam, Hindu, dan Nasrani— pun tampaknya belum mampu menghilangkan keyakinan tentang adanya kekuatan gaib

 

Menurut penulis, buku ini sejatinya hasil terjemahan dari karya Van Hien, seorang ahli Javanologi Belanda, berjudul De Javansche Geestenwereld (Dunia Roh Orang Jawa), yang diterbitkan setebal tiga jilid, pada sekitar tahun 1920. karena kelihaiannya menguasai bahasa Belanda, memungkinkan penulis menikmati karya yang sudah tergolong sangat langka itu. Bahkan, di negeri Belanda sendiri, buku semacam itu sudah tidak lagi beredar di pasaran, karena memang pada masa penjajahan Jepang, semua buku yang berbahasa Belanda harus dimusnahkan. Jika ada yang ketahuan menyimpannya, akan ditangkap dan dihukum oleh Polisi Rahasia Jepang. 

 

Belanda yang pernah menjajah kita selama 350 tahun ternyata tidak hanya mengeruk hasil kekayaan bumi, melainkan juga mencatat berbagai keyakinan yang berlaku di masyarakat saat itu secara detail. Pemahaman tentang keyakinan itulah yang dijadikan penjajah sebagai alat untuk menguasai kita. Kita sendiri justru tidak memiliki catatan yang memadai tentang itu. Karena itu, membaca buku ini berarti berusaha untuk tidak melupakan keyakinan itu. Apalagi masa penjajahan, yang begitu  pahit, seharusnya tidak boleh  kita lupakan begitu saja.

 

Maka, kehadiran buku ini jelas dilatari ketakutan akan hilangnya fakta adanya suatu keyakinan yang pernah dianut oleh orang Indonesia, khususnya masyarakat Jawa. Supaya fakta itu tidak lenyap begitu saja, masyarakat yang melihat tayangan—paling tidak di berbagai media cetak dan elektronik selama ini—mengenai berbagai dunia mistik, dapat merunut asal-usulnya ke suatu sumber yang berakar di masyarakat kita sendiri. Dalam buku setebal 280 halaman ini termuat beragam agama dan kepercayaan, dunia roh, benda-benda magis, ritual, perhitungan waktu, ramalan Jayabaya, sampai tempat-tempat angker yang masih terdapat di Pulau Jawa sampai saat ini.

 

Akhirnya, kehadiran buku ini menjadi begitu penting untuk dibaca siapa saja. Prestasi kesejarahan yang telah dicapai Capt R.P. Suyono dalam buku ini sungguh sayang dilewatkan. Bukan hanya sebagai kontribusi kekayaan intelektual semata. Lebih dari itu, buku ini dapat dijadikan sebagai sarana untuk mengingatkan kembali fakta sejarah masyarakat kita, utamanya masyarakat Jawa. semoga!

(Alumnus Pondok Pesantren Al-Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan,
Mahasiswa Akhir Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya)

DARI : http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=9810

  PDF Print E-mail
Written by ivan   
Tuesday, 30 October 2007
 Coba deh lihat di bioskop, film yang sedang diputer sekarang lagi seru tentang pertempuran para hantu…

 

Ada Jelangkung 3, Pocong 3, Kuntilanak 2 en Legenda Sundel Bolong. Wah rupanya para hantu sedang jadi seleb neh, gw yakin tahun ini juri Festival Film Indonesia-FFI bakal susah memilih pemenang Aktor terbaik, karena akting pocong, kuntilanak, jelangkung, suster ngesot semuanya hebat en mengagumkan…wow wow

 

Tapi gw agak kesian ni sama sutradara2 muda yang udah ngebangkitin film indonesia, ya seperti Mira lesmana, Riri Riza & Rudy Sudjarwo. Setelah film indonesia mati suri tahun 90-an boleh dibilang mereka yang pertama berani munculin film yang untuk ukuran indonesia lumayan bermutu lah, Kayak AADC (swear gw gak pernah nonton secara serius sampe abis!! tapi dari beberapa scene kayaknya lumayan seh) atau Petualangan Sherina (sumpah gw nonton sama ponakan gw loh!! dan gw jg sumpah gak ikut2an nyanyi pas lagu “Dia pikir, dia yang paling hebat ….” )

 

Para sutradara ini sekarang udah kalah pamor sama The Punjabi’s Clan, penguasa sinetron ini emang udah masuk ke film juga en berhasil bikin film versi sinetron diantaranya ya dengan bintang seleb hantu itu.

 

Yang gw kesianin sih mungkin aja film indonesia bakal mati lagi kayak dulu, seingat gw dulu film kita mati gara2 terjebak di tema porno, waktu itu hampir semua film indonesia di bioskop temanya porno, kayak Gairah Binal, Usia 17, Gadis Metropolitan (lagi2 gw bersumpah judul film ini nggak tau gw bener2 ada ato nggak, tapi ya kira2 kayak gitu lah) sampai filmnya Dono Kasino Indro aja terjebak pakai cewe2 seksi.

 

Dan akhirnya film indonesia tewas di tempat.

Jadi kalo bentar lagi film kita mati lagi, bukan fenomena tuh…

 

Kuntilanak: Usaha Membumikan Hantu
Oleh: Muji Arso
Dari judulnya, film ini menjanjikan sebuah horor yang membumi, meng-Indonesia, setelah sejumlah film serupa yang hadir sebelumnya seolah tak berpijak. Orang tersedot ke dalam cermin (Di Sini Ada Setan), misalnya, sama sekali bukan horor yang pernah kita kenal dalam konteks Indonesia maupun, misalnya, Jawa. Sedangkan hantu muncul dari dalam bath up, dengan rambut panjang terurai ke mana-mana, hanyalah kelatahan generasi filmmaker yang terlalu terpesona dengan estetika horor Jepang.Kuntilanak, sekali lagi dari judulnya, membuat kita berharap akan mampu mengobati kerinduan pada film horor yang menyentuh emosi “kedekatan”. Sebab, meskipun ketakutan adalah sensasi yang universal, hantu bersifat kontekstual. Di Amerika pasti tidak ada sundel bolong, di Jepang hantu muncul dari tayangan video, dan di Indonesia hantu berdiam di pohon besar.

Karya kesekian dari duet Rizal Mantovani (sutradara) dan Ve Handojo (skenario) ini, dari awal berhasil menyentuh emosi kedekatan saya karena mengambil budaya dan alam pikiran Jawa sebagai setting. Saya yang waktu duduk di bangku SD menjuarai lomba menembang macapat, terbengong-bengong (baca: takjub) mendengar informasi bahwa tembang Durmo bisa digunakan untuk memanggil kuntilanak. Seketika, film ini kemudian menyeret saya dalam kubangan pertanyaan besar yang sangat mendasar: apakah kuntilanak itu sendiri hantu Jawa?

Film ini dibangun dari premis yang sederhana: Sam (Julie Estelle) pindah kos ke sebuah bangunan tua yang angker. Ibu kos yang misterius menjelaskan ini dan itu, lalu tiba-tiba bertanya, “Apakah kamu senang berdoa?” Saya senang dengan dialog seperti ini, tapi kok rasanya lepas konteks. Orang yang lahir dan besar di Indonesia, apalagi Jawa, tidak berbicara dengan cara, nada, gaya dan isi seperti itu.

Selanjutnya, obrolan sampai pada soal kuntilanak, yang konon berumah di pohon besar tengah kuburan yang terlihat dari jendela kamar. Dari obrolan tentang hal itu, sang ibu kos lalu melagukan tembang yang konon bisa memanggil kuntilanak. Sam merasakan hawa yang ganjil, tapi ibu kos itu dengan enteng bilang, “Kuntilanak itu hanya mitos.”

Belakangan baru diketahui bahwa kesembronoan sang ibu kos menembang Durmo itu berakibat fatal, karena membangkitkan sesuatu yang telah lama terkubur. Jadi, kalau tadi dikatakan, premisnya sederhana, maka yang menarik adalah konteks yang melingkupinya. Bangunan tua itu dulu bekas pabrik batik yang terbakar, dan menewaskan semua penghuninya. Pabrik itu milik sebuah keluarga besar ningrat Jawa. Tapi, ada yang menduga, lebih dari sekedar pabrik batik, di situ merupakan pusat sebuah aliran sesat.

Ambiguitas itu menarik, dan unsur ke-Jawa-an itu sebenarnya bisa menjadi daya pikat yang membuat film ini berbeda dibandingkan horor-horor yang pernah ada. Seandainya pembuatnya bisa melakukannya. Tapi, yang terlihat sebaliknya, justru faktor Jawa itu kemudian menjadi titik terlemah yang membuat orang mempertanyakan begitu banyak hal dalam film ini. Termasuk, logika-logika dasar tentang dunia hantu.

 

***

 

Dari awal, film ini mencoba merangkai kisah horornya dengan sesuatu yang bersifat penjelasan “historis” dan “ilmiah”. Misalnya, film ini mengetengahkan teori bahwa kuntilanak itu makluk setengah kuda setengah manusia (perempuan). Namun, dalam penampakannya, kita disuguhi hantu perempuan tua yang meng-ore rambut putihnya, berwajah menyeramkan, kadang berjalan ngesot kadang berkelebat cepat seperti main petak-umpet.

Dari awal juga disebutkan, kuntilanak itu berumah di pohon. Tapi, pada kenyataannya, ia selalu muncul dari dalam cermin yang ada di kamar-kamar kos. Akhirnya, ambisi untuk memberi penjelasan historis dan ilmiah tadi menjebak film ini sendiri ke dalam pertanyaan-pertanyaan tentang logika yang sebenarnya tidak perlu.

Dan, kalau mau konsisten dengan unsur Jawa tadi, maka masih banyak hal lain lagi yang bisa dipertanyakan. Mengikuti cara bertutur filmnya, mari sedikit sok-berteori. Dalam jagad takhayul Jawa, dikenal adanya, setidaknya, tiga jenis hantu: memedi, lelembut dan demit. Yang pertama adalah roh yang menakut-nakuti, yang kedua roh halus yang menyusup ke dalam tubuh manusia, membuat orang kesurupan, dan yang terakhir, makluk halus yang mendiami tempat tertentu.

Mau dimasukkan ke dalam jenis yang mana pun, kuntilanak sama sekali tidak dikenal dalam dunia hantu Jawa. Kalau merujuk pada hantu perempuan, maka orang Jawa hanya mengenal peri, wedon dan wewe. Menurut saya, kuntilanak dalam film ini merujuk pada wewe.

Ada dua kemungkinan: pembuat film ini tahu benar dunia hantu Jawa, atau dia tidak tahu sama sekali sehingga dengan bebas tanpa beban mereka-reka tanpa logika. Saya cenderung menduga, yang terjadi adalah kemungkinan kedua. Satu hal lagi yang menarik: film ini menampilkan dunia hantu dalam kaitan dengan pesugihan. Ini khas film horor Indonesia seperti pernah kita akrabi lewat film-film horor tempo dulu yang banyak dibintangi Suzana.

Namun, sekali lagi sayang, bagian tersebut hanya ditampilkan sepintas-lalu, dan justru kembali membuat penonton (Jawa) bertanya-tanya: apakah wewe (kuntilanak) termasuk makluk halus jenis peliharaan, seperti tuyul, untuk mencari pesugihan?

 

***

 

Dalam berbagai khasanah tentang hantu di Jawa, baik yang diceritakan secara lisan maupun yang tertulis, hantu bukanlah sosok jahat yang mengejar-ngejar orang lalu membunuh dengan kejam. Hantu hanyalah makluk yang meruhi (menampaki), dan itu saja sudah cukup membuat orang “mati ketakutan”. Tidak ada hantu yang membunuh orang dengan memelintir kepala seperti kuntilanak dalam film ini, atau hantu-hantu lain di film-film horor lain yang entah kenapa selalu saja membunuhi orang satu per satu.

Secara alur dan logika cerita film ini memang masih bolong di sana-sini dan kadang bikin kening berkerut. Kisah cinta Sam dan Agung (VJ Evan) misalnya, sama sekali tidak membantu apa-apa. Akting pemain-pemainnya juga buruk. Dan, gambar-gambar yang ditampilkan sebagian sangat besar masih khas rasa video klip.

Namun, secara umum, film ini berhasil membangun suasana dan menciptakan mood sebagai film horor yang memberi rasa takut pada penonton. Termasuk, berhasil menjaga ketegangan layaknya sebuah film detektif yang mampu menimbulkan penasaran sehingga membuat penonton betah duduk sampai akhir.

Dibandingkan dengan Mirror dan Missing, atau juga Lentera Merah, film ini lebih memenuhi kriteria, dan dengan demikian lebih layak disebut sebagai, film horor. Film ini berhasil menggeser kecenderungan film-film horor klangenan para ABG metropolis, yang hanya bisa bikin jejeritan, untuk kemudian ditertawakan. Kuntilanak menghipnotis, memaku penonton terdiam di tempat duduknya karena diam-diam merasakan ketakutan.

 http://www.layarperak.com/print.php?newsid=1162244121

 

(30 Oktober 2006)
Rumah Hantu AmityVille, salah satu misteri dunia

Pada Desember 1975, George dan Kathleen serta anak-anak mereka pindah ke sebuah rumah di 112 Ocean Avenue, sebuah rumah besar bergaya kolonial Belanda di Amityville, sebuah lingkungan di pinggiran kota di selatan Long Island, New York. Tigabelas bulan sebelum keluarga Lutz pindah, Ronald DeFeo, Jr., pemilik sebelumnya, telah menembak mati enam anggota keluarganya di rumah itu. Setelah 28 hari keluarga Lutz tinggal dirumah itu, mereka mulai merasakan hal-hal aneh dengan rumah tersebut.

Bagian ini berdasarkan buku yang ditulis oleh Jay Anson, 1977, The Amityville Horror – A True Story.

Jay Anson (1921-1980), adalah penulis The Amityville Horror

Rumah bernomor 112 di Ocean Avenue telah kosong selama 13 bulan setelah DeFeo membunuh anggota keluarganya, hingga pada Desember 1975 keluarga Lutz membeli rumah tersebut seharga $80.000. Rumah yang memiliki enam kamar tidur ini dibangun dengan gaya kolonial Belanda, dan memiliki atap yang melengkung. Rumah ini dilengkapi dengan kolam renang dan sebuah rumah tempat penyimpanan kapal. George dan Kathy telah menikah pada bulan Juli 1975 dan mempunyai rumah mereka sendiri, namun ingin memulai kembali dengan memiliki rumah baru. Kathy mempunyai tiga anak dari pernikahan sebelumnya, Daniel (9), Christopher (7), dan Melissa alias Missy (5). Mereka juga memiliki seekor anjing Labrador yang diberi nama Harry. Selama pengecekkan mereka saat akan membeli rumah tersebut, oleh agen mereka telah diberitahukan mengenai pembunuhan yang dilakukan oleh DeFeo, namun mereka menganggap hal itu bukanlah masalah.

Keluarga Lutz pindah kerumah tersebut pada 18 Desember 1975. Sebagian besar mebel dari keluarga DeFeo masih ada, karena semuanya termasuk dalam kesepakatan jual beli. Seorang teman George Lutz telah mempelajari tentang masa lalu sejarah rumah tersebut, dan mendesak agar mereka melakukan pemberkatan. Namun mereka tidak mengerti cara-caranya. George mengenal seorang Pendeta Katolik yang bernama Bapa Ray, dan ia bersedia untuk melakukan pemberkatan. (Dalam buku Anson disebutkan nama Pendeta tersebut adalah Bapa Mancuso. Hal ini dilakukan untuk menjaga privasi Pendeta tersebut, nama aslinya adalah Bapa Ralph J. Pecoraro).

Bapa Mancuso adalah seorang pengacara, imam Katolik, dan seorang psikoterapi yang tinggal di Sacred Heart Rectory. Ia tiba untuk melaksanakan berkat pada sore hari tanggal 18 Desember 1975 disaat George dan Kathy sedang membongkar barang-barang mereka. Ketika ia mengibaskan air suci yang pertama dan mulai untuk berdoa, ia mendengar suara dengan jelas yang mengatakan”Keluar!” – “Get out!”. Disaat meninggalkan rumah tersebut, ia tidak menceritakan kejadian itu kepada George maupun Kathy. Pada 24 Desember 1975, Bapa Mancuso menelepon George Lutz dan menasihatkan agar dia tidak menggunakan ruang dimana ia telah mendengar suara yang aneh tersebut. Ruang ini adalah ruangan yang direncanakan Kathy digunakan sebagai ruang jahit, dan tadinya adalah kamar tidur Marc dan Yohanes Matthew DeFeo. Percakapan telepon terputus secara tiba-tiba, dan kunjungan berikutnya ke rumah tersebut mengakibatkan Bapa Mancuso menderita demam tinggi dan pada lengannya dijumpai tanda yang mirip dengan tanda stigmata.

Pada mulanya, George dan Kathy Lutz tidak merasakan hal yang aneh dengan rumah mereka. Namun kemudian, mereka merasa bahwa “masing-masing dari mereka tinggal di suatu rumah yang berbeda”.

Sebagian dari pengalaman keluarga Lutz diuraikan sebagai berikut:

* George selalu terbangun sekitar pukul 03:15 setiap paginya, dan kemudian keluar ke rumah tempat penyimpanan kapal. Waktu tersebut diperkirakan adalah waktu dimana DeFeo membunuh anggota keluarganya.
* Rumah mereka selalu diganggu oleh segerombolan lalat di setiap musim dingin.
* Kathy mendapat mimpi buruk tentang pembunuhan dan saat dimana ia melakukan persetujuan pembelian rumah tersebut. Anak-anak mereka juga mulai tertidur dengan terlungkup, posisi yang sama saat mayat DeFeo ditemukan.
* Kathy merasakan seolah-olah “sedang dipeluk” dengan penuh kasih oleh suatu kekuatan yang tidak terlihat.
* Kathy menemukan sebuah ruang kecil yang tersembunyi (sekitar empat kaki) di belakang basement. Dindingnya bercat merah dan ruangan itu tidak tampak didalam denah rumah. Ruangan itu kemudian dikenal dengan nama “The Red Room”. Ruangan ini memiliki pengaruh terhadap anjing mereka Harry, yang selalu menolak untuk mendekat dan selalu berjongkok seolah-olah merasakan sesuatu yang negatif.
* Ada udara dingin, bau parfum dan kotoran didalam rumah, dimana tidak terdapat saluran udara atau jalur bagi sumber tersebut.
* Putri mereka yang berumur lima tahun, Missy, mengisahkan teman imajinasinya yang bernama “Jodie” yang memiliki mata yang sangat merah.
* George selalu dibangunkan oleh bunyi bantingan pintu depan. Ia akan segera ke lantai bawah dan menemukan anjing mereka tertidur dengan suara keras didepan pintu. Tidak ada orang lain yang mendengar suara itu kecuali dia.
* George mendengar apa yang diuraikan sebagai “Marching band Jerman” atau suara seperti radio yang tidak di setel dengan frekuensi yang tepat. Namun ketika ia ke menuju lantai bawah, suara gaduh akan berhenti.
* George disadari bahwa ia memiliki kemiripan kuat dengan Ronald DeFeo, Jr., dan mulai bermabukan di The Witches’ Brew, bar dimana DeFeo adalah salah seorang pelanggannya.
* Ketika mengecek tempat penyimpanan kapal pada suatu malam, George melihat sepasang mata merah yang sedang memperhatikan dia dari jendela kamar tidur Missy. Ketika ia pergi keatas untuk melihatnya, ia tidak menemukan apa-apa. Kemudian disimpulkan bahwa itu adalah “Jodie”.
* Ketika ditempat tidur, Kathy mendapatkan bekas merah didadanya disebabkan oleh suatu kekuatan tak terlihat, dan ia diangkat sekitar dua kaki dari tempat tidurnya.
* Kunci, jendela, dan pintu rumah dirusakkan oleh suatu kekuatan yang tak terlihat.
* Terdapat belahan kuku binatang yang besar di salju yang kemudian dihubungkan dengan seekor babi besar pada 1 Januari 1976.
* Dari dinding aula dan lubang kunci dari pintu kamar bermain yang ada di loteng keluar lumpur yang berwarna hijau.
* Sebuah salib 12 inchi yang digantung Kathy di kamar kecil ditemukan terpasang terbalik dan menyemburkan bau.
* George tersandung oleh sebuah keramik singa Tiongkok yang memiliki tinggi sekitar empat kaki, yang kemudian meninggalkan bekas gigitan pada salah satu mata kakinya.
* George melihat Kathy berubah menjadi seorang wanita tua yang berumur sekitar 90-an, “dengan rambut acak-acakan, muka dengan kerutan dan berbentuk buruk, dan air liur yang menetes dari mulutnya yang ompong”.

George dan Kathy Lutz dikelilingi dengan berbagai media yang mengulas kasus mereka

Setelah memutuskan bahwa ada yang tidak beres dengan rumah mereka, yang tidak dapat dijelaskan secara rasional, George dan Kathy Lutz melaksanakan suatu pemberkatan dengan cara mereka sendiri pada 8 Januari 1976. George memegang sebuah salib yang terbuat dari perak selagi kedua-duanya membacakan Doa Para Raja, dan dari ruang tamu mereka, menurut dugaan banyak oang terdengar suara paduan suara yang meminta agar mereka berhenti: “Will you stop!”.

Di pertengahan Januari 1976, dan setelah usaha pemberkatan yang dilakukan oleh George dan Kathy, mereka mengalami kejadian yang kemudian menjadi malam terakhir mereka berada di rumah itu. Keluarga Lutz menilai bahwa segala kejadian yang terjadi sebagai sesuatu yang sangat menakutkan, “too frightening”.

Setelah berkonsultasi dengan Bapa Mancuso, mereka memutuskan untuk mengambil beberapa barang kepunyaan mereka dan memutuskan untuk tinggal di rumah ibu Kathy di dekat Deer Park, New York. Pada 14 Januari 1976, George dan Kathy Lutz bersama ketiga anaknya dan anjing mereka Harry, meninggalkan rumah dan meninggalkan banyak barang dibelakang rumah tersebut. Hari berikutnya, seorang tukang ditugaskan untuk memindahkan barang-barang untuk dikirim ke keluarga Lutz. Ia melaporkan ada fenomena yang tidak normal didalam rumah itu.

Buku ini ditulis setelah Tam Mossman, seorang editor di penerbit Prentice Hall yang mengenalkan George dan Kathy Lutz kepada Jay Anson. Mereka tidak bekerja secara langsung dengan Anson, namun disampaikan melalui rekaman tape yang berdurasi sekitar 45 jam, yang kemudian menjadi dasar bagi penulisan buku ini. Diperkirakan penjualan buku ini mencapai sepuluh juta kopi dari beberapa edisi. Anson dikatakan mengambil dasar judul bukunya “The Amityville Horror” dari “The Dunwich Horror” karangan H.P. Lovecraft yang diterbitkan pada tahun 1929.

Cerita “The Amityville Horror” dilanjutkan dengan seri buku yang dibuat oleh John G. Jones. Seri-seri tersebut adalah The Amityville Horror Part II (1982), Amityville – The Final Chapter (1985), Amityville – The Evil Escapes (1988) dan Amityville – The Horror Returns (1989).

Pada 1991, “Amityville – The Nightmare Continues” yang ditulis oleh Robin Karl diterbitkan.

__________________
Hentikan cara mereka yang akan menyiksamu. Biarkan mereka yang memikirkan kepunyaanmu dilempar kembali kepada kebingungan dan keburukan. Biarkan mereka menjadi seperti sekam sebelum angin topan dan setelah itu kehilangan kegembiraan dalam penyelamatan mereka sendiri. Dan semua tulang-tulang akan berkata dengan bangga, “Siapa yang seperti aku? Tidakkah aku terlalu kuat untuk musuh-musuhku sendiri? Tidakkah aku mengirim DIRIKU SENDIRI oleh otakku sendiri?”
DARI :

–>
<!–

Dunia Malam Jawa Timur Diincar 29 ‘Hantu’ AIDS<!– –>Prima Sp Vardhana    16-03-07 23:14   PDF Cetak E-mail
Apresiasi: / 0
JelekBagus 
 
Para pria pecandu ‘cinta sesaat” di Jawa Timur, mungkin sudah saatnya meninggalkan kebiasaan buruknya. Pasalnya nasib kesehatan dirinya dan pasangannya bagi yang sudah menikah, pada saat ini tengah di ujung tandung. Mereka memiliki peluang besar untuk terserang virus HIV/ AIDs. Ini karena sebanyak 29 orang PSK pengidap virus mematikan asal lokalisasi Puger di Jember, saat ini telah melarikan diri dan tak dapat terkontrol arahnya.”Dengan larinya para PSK pengidap virus HIV/ AIDs itu di atas kertas kesehatan masyarakat, khususnya yang pasangannya hobi “jajan” saat ini tengah terancam. Kesehatan keluarga mereka berpeluang terinveksi virus mematikan ini,” kata Heni Sukartiningsih, Program Officer Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), seperti dikutip beberapa media nasional dan lokal terbitan Surabaya. 

Menurut ia, para PSK pembawa virus HIV/ AID itu kabur setelah kepastian penutupan lokalisasi Puger tinggal tunggu waktu, 1 April 2007. Dari 29 PSK yang kabur sebanyak 25 orang merupakan hasil pendataan pengidap virus HIV pada  tahun 2006. Ironisnya sebelum data itu ditindaklanjuti KPA, ternyata para PSK itu sudah kabur. Kaburnya para PSK ini, dikatakan, seharusnya tidak perlu terjadi seandainya KPA sejak awal dilibatkan dalam rencana penutupan lokalisasi Puger. “Jika KPA terlibat, tim VCT (Voluntary Councelling Test) bisa melakukan antisipasi sebelum para PSK tersebut dipulangkan. Sehingga saat kembali ke daerah masing-masing, para penderita HIV/ AIDs itu tetap terpantau,” ujarnya.

Dengan kaburnya 29 PSK tersebut dikhawatirkan KPA akan memperpanjang daftar nama pengidap HIV/AIDS. Sebab banyal diantara para PSK itu belum menyadari akan kondisi mereka sebagai pembawa virus mematikan. “Padahal dalam sehari saja, para PSK itu bisa menyebarkan virus HIV/ AIDS pada  sejumlah pria yang dilayani. Jika semalam rata-rata mereka melayani empat pria hidung belang, maka jumlah penderita AIDs di Jatim sudah bertambah 116 penderita. Jumlah itu akan terus bertambah sampai 29 PSK itu sadar akan kondisi kesehatannya dan berhenti praktik,” katanya.

Namun berhentinya 29 PSK itu berpraktik, dikatakan, bukan berarti menghentikan jumlah penderita virus HIV/ AIDs yang tertular. Sebab para pria yang mereka tulari akan berganti sebagai medium penyebar virus, baik pada para PSK yang dikencani atau kah para pasangan resmi mereka di rumah. Juga, bukan tidak mungkin pada anak-anak mereka lewat medium penularan lainnya. Belajar dari kaburnya para PSK pengidap HIV/AIDS itu, Pemkab Jember memutuskan melibatkan KPA. Sukartiningsih mengakui, keterlibatan tim VCT dan KPA terhitung terlambat. Namun, KPA tetap akan melakukan pendampingan terhadap para PSK yang masih ada. Konseling dilakukan hingga mereka secara sadar mau memeriksakan diri kepada tim VCT. 

http://www.halamansatu.net/index.php?option=com_content&task=view&id=495&Itemid=50

Film Indonesia 2007
Antara Dunia Hantu dan UUPerfilman

Oleh
Mila Novita

JAKARTA – Dunia hantu, bisa jadi begitulah sebutan untuk dunia perfilman Indonesia sepanjang 2007 ini yang belum beranjak dari tren horor dari tahun-tahun sebelumnya. Hampir semua jenis hantu yang popular di Indonesia dimunculkan, bahkan dijadikan judul film, mulai dari Jelangkung, Pocong, Suster Ngesot, Kuntilanak, sampai dengan Sundal Bolong.
Bukan hanya karena penonton kita yang gemar “berteriak” ramai-ramai ketika menyaksikan adegan di dalamnya, tetapi juga karena suguhan film lokal di bioskop yang tidak banyak pilihan. Horor memang mengasyikkan jika ditonton beramai-ramai. Maka tidak heran jika jumlah penontonnya pun selalu banyak, meskipun rekor penonton terbanyak beberapa tahun belakangan ini bukan dipegang film horor, melainkan film-film berjenis drama seperti Heart atau tahun ini Nagabonar Jadi 2 yang masa tayang di bioskop melebihi satu bulan.
Jika rekor penonton terbanyak tidak dipegang genre horor, mengapa pula sutradara dan produser masih gemar memproduksinya? Jose Poernomo, yang pertama kali muncul di jagad perfilman dengan Jelangkung, bersama dengan Rizal Mantovani, mengaku ada kepuasan tersendiri ketika membuat film horor.
“Mungkin film horor buat saya adalah film yang paling gampang menggugah emosi penonton,” ujar Jose yang juga membuat Pulau Hantu (2007) dan Angker Batu (2007). Jose yang mengaku tidak berani memasukkan pesan moral dalam film-filmnya ini merasa membuat film horor jauh lebih mudah ketimbang membuat film drama.

“Membuat orang terharu itu lebih susah lagi, mungkin itu yang membuat (film horor) lebih fun karena kita bisa bikin apa saja,” kata Jose dalam promosi film terakhirnya, Pulau Hantu, beberapa waktu lalu.
Namun, sayangnya kemudahan itu justru membuat penggarapan film-film horor tidak serius, terkesan terburu-buru layaknya membuat sinetron. Bayangkan saja, untuk membuat sebuah film horor, Jose hanya butuh waktu tiga bulan mulai dari datangnya ide sampai dengan pascaproduksi. Skenarionya pun seadanya. film Pulau Hantu, misalnya, hanya terdiri dari 30 halaman skenario.
“Untuk film berdurasi 100 menit, itu kurang banget. Tapi kalau saya diminta membuat seknario seperti yang mereka harapkan, film ini tidak akan selesai,” katanya. Apalagi sang produser mengejar waktu tayang bersamaan dengan Halloween pada 31 Oktober lalu.
Rekor terjadi pasca Idul Fitri lalu. Jika di tahun 1980-an film Lebaran bergenre komedi, tahun ini berubah menjadi horor. Lima dari film lokal yang beredar saat Lebaran, empat di antaranya bergenre horor, antara lain Pocong 3, Kuntilanak 2, Jelangkung 3, dan Sundal Bolong.
Namun, di tengah-tengah ramainya film horor, tahun ini mulai bermunculan genre komedi yang lumayan cerdas, tidak sekadar komedi slapstik yang mulai membosankan. Nagabonar Jadi 2, meskipun unsur dramanya kuat, pun bisa mengocok perut penonton sepanjang pemutarannya.
Satu di antara film Lebaran itu muncullah Get Married, garapan Hanung Bramantyo yang mengantarnya sebagai sutradara Terbaik FFI 2007, yang ditulis oleh peraih gelar Penulis Skenario Terbaik FFI 2007 untuk film Nagabonar Jadi 2, Musfar Yasin, atau Maaf, Saya Menghamili Istri Anda yang gaya bertuturnya santai dan kocak. Menjelang akhir November lalu, muncul Quickie Express produksi Kalyana Shira garapan Dimas Jay dari skenario buatan Joko Anwar.
Meskipun masih didominasi horor, perkembangan kuantitas produksi film Indonesia cukup menggembirakan. Sejak awal 2007, menurut Titie Said, Ketua LSF, ada 50 film (dari 78 yang terdaftar di Direktorat Perfilman) yang telah lolos sensor sampai dengan pertengahan Desember ini.

Perjuangan MFI
Catatan lainnya justru datang dari tubuh orang-orang film sendiri. Konflik yang terjadi di masyarakat perfilman yang sudah muncul pasca-FFI 2006 silam. Masyarakat Film Indonesia (MFI) yang beraggotakan sineas muda, antara lain Riri Riza, Mira Lesmana, Nia Dinata, Joko Anwar, Hanung Bramantyo, Dian Sastro, Shanty Hermayn, dan Rudi Sudjarwo menuntut perombakan Undang-Undang Perfilman Indonesia tahun 1992. Perubahan yang paling diinginkan adalah pembubaran Lembaga Sensor Film (LSF) yang menurut mereka membatasi kreativitas pekerja film, juga penyelenggaraan FFI yang seharusnya independen, tidak lagi diselenggarakan pemerintah. Permasalahan ini terlampiaskan pada FFI.
Sebagai efek penilaian Ekskul sebagai Film Terbaik FFI 2007 yang dianggap tidak layak karena beberapa hal, MFI mengembalikan 31 Piala Citra yang didapatkan anggotanya. Meskipun bukan anggota, Deddy Mizwar turut dalam aksi tersebut.
Belakangan, tuntutan MFI untuk mengubah juri dan penyelenggara FFI, yaitu Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BPPN). BPPN masih didaulat menyelenggarakan FFI tahun ini, namun dengan pimpinan baru, Deddy Mizwar, yang menjadi bagian dari aksi pengembalian Piala Citra itu. Namun, bukan hanya itu perubahan FFI yang diminta Mira, selaku salah seorang MFI. Ia menginginkan FFI seperti dahulu dengan pemutaran dan diskusi film.
Sejak pimpinan baru BPPN itu, MFI sudah beberapa kali berdialog, namun belum juga mencapai kesepakatan. Ujungnya, MFI tetap tidak menyertakan karya mereka di FFI (kecuali produser rumah produksi yang menyertakannya) tahun ini, bahkan menolak unggulan.
Perjuangan menuju Undang-Undang Perfilman yang baru sampai pada tahap uji materi di Mahkamah Konstitusi, sidang pertama pada 26 November dan kedua pada 10 Desember lalu. “Kami menekankan pada bagian Pasal 34 dan Pasal 40 (Undang-Undang No. 8 Tahun 1992 tentang Perfilman) karena menurut peraturan yang berlaku, bagian yang melanggar hak konstitusi pemohonlah yang dapat diajukan. Kami menganggap dua pasal itulah yang paling penting,” kata Riri Riza, juru bicara MFI. Dua pasal itu masih menyangkut LSF.
Sebagai Ketua LSF, Titie Said mengaku seakan berada di dua pihak. “Di satu pihak, kami menjadi andalan masyarakat yang masih mengagungkan tata nilai budaya, dan di lain pihak kami dituntut oleh orang-orang yang menghargai kebebasan berkreasi,” kata Titie. Sepanjang tahun 2007 ini, hanya ada satu film yang tidak mendapatkan izin edar.
“Saya tidak mau mengatakan, tapi itu film untuk festival,” ujar Titie. Film tersebut, menurut Titie, memberi gambaran perempuan Indonesia yang tidak semestinya. “Kalau Anda menjadi anggota LSF mungkin Anda juga tidak akan suka,” katanya melanjutkan.
Selain permasalahan undang-undang yang tidak juga kunjung usai itu, MFI tidak terlalu banyak mengharapkan bantuan pemerintah, apalagi soal pendanaan. Menurut Shanty Harmayn, salah seorang produser, komponen pasar film di Indonesia sudah mencukupi untuk memproduksi film yang rata-rata Rp 4 miliar.
Hanya saja, kita masih kekurangan pekerja film. Dan inilah kesempatan jika pemerintah benar-benar berniat membangun perfilman kita dengan sekolah-sekolah film yang memadai. Beberapa negara yang filmnya berkembang, dana untuk membangun sekolah film itu diambil dari pajak film-film yang beredar.
Selain aspek pendidikan itu, masih ada tuntutan pengembangan produksi, sistem perpajakan yang mendukung (tidak memberatkan), persaingan usaha dan jaringan distribusi yang transparan, festival yang bervisi, serta upaya-upaya intensif untuk memperkenalkan film Indonesia di dunia internasional.
“Pemerintah kita tidak pernah punya strategi yang cukup untuk mengembangkan perfilman Indonesia. Sampai saat ini, film di Indonesia belum juga menjadi identitas budaya nasional,” kata Riri. n

 
 

 

 
 

Copyright © Sinar Harapan 2003

 

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0801/04/sh04.html

Alat Pendeteksi Hantu Teknologi Jepang (kode : BGD)

Kategori : Lain-lain
 
 
Ingin mendeteksi keberadaan hantu di sekitar anda baik di rumah, sekolah, kantor dll? gak perlu repot manggil paranormal, gunakan saja……
 

BAKETAN GHOST DETECTOR
Pendeteksi Hantu Paling Heboh di Dunia!

Controvercial comments to Ghost Detector from media of the worlds!!

“This is not a game.
This is a measuring device.”
- USA TODAY -
Among Yahoo Japan, Rakuten Ichiba, Livedoor and personal blogs, thunderouse Applause, tons of skeptical opinion everyday!
 

Before starting selling this detector, we went to a shrine which was really well-known among Japanese as a Ghost Spot! This is not a commercial story but true! As you may not believe, we felt terrible cold, and right after that, Baketan detected something unusual… it sirened in RED!!!
Sebelum menjual alat pendeteksi ini, kami telah datang ke sebuah kuil yang sangat terkenal di kalangan masyarakat Jepang sebagai tempat berhantu! Ini bukan cerita komersil tetapi kenyataan! Karena anda mungkin tidak percaya, kami merasakan dingin yang luar biasa, dan setelah itu, Baketan mendeteksi sesuatu yang tidak wajar… kemudian mengeluarkan cahaya Merah!!!


BAKETAN detector includes
Baketan detector, Baketan Phone Strap, and a baby Ghost (John)!!

More Information:
- Dimension (approx.): 38 x 35 x 9 mm, Baby Ghost Size: 20 mm, Total Length: 140mm
- Battery type: CR2016 (1 piece)


Really booming all around Japan!! LIMITED!! Hurry up before sold out!
Benar-benar boomingk di seluruh Jepang!! TERBATAS!! Buruan sebelum kehabisan!

Ghost Detector, by Japanese Technology, catches Ghost! You can search Ghost using Baketan!
Pendeteksi Hantu, dengan Teknologi Jepang, menangkap Hantu! Anda dapat mencari hantu menggunakan Baketan!

Simply, push the button. Then it starts searching for Ghosts! It keeps blinking for about 10 seconds.
Caranya sederhana, tekan tombol. Kemudian alat akan mulai mencari keberadaan hantu! Alat akan terus berkedip selama sekitar 10 detik.

If the circumstance around you is normal, it ends blinking (shortly, it blinks 3 times in the end.) oh, you can feel ease :-)
Jika situasi sekitar anda normal, alat akan berhenti berkedip (dengan tanda berkedip 3x secara cepat). Anda akan merasa lega karena berarti tidak ada hantu :-)

HOWEVER! if something unusual, it cautions you by blinking in red continuously with some buzzer sounds!! It’s in danger!! Get out of the place you stand!
BAGAIMANAPUN JUGA! jika ada sesuatu yang tidak wajar, alat memperingatkan anda dengan mengedipkan sinar merah secara terus-menerus dengan suara-suara buzzer!! Anda dalam bahaya!! Menyingkirlah dari tempat anda berdiri!

Or if you have to stay there, keep pushing the button for some seconds, then, Baketan safe mode starts to expel some Ghost out of your body!
Atau jika anda harus tetap di tempat, teruslah menekan tombol untuk beberapa detik, kemudian, Baketan safe mode mulai mengusir Hantu keluar dari tubuh anda!

Even if you do not have a Baketan in your hand, it keeps searching for Ghosts automatically, once every ten minutes!!
Bahkan meskipun anda tidak memegang Baketan, alat tersebut tetap mencari Hantu secara otomatis, setiap 10 menit sekali!!

Go out in midnight and find Ghost but beware of being possessed by Ghosts or Devils!! Once you find something untouchable horrible existence, push the Baketan and protect by its safe mode.
Pergilah keluar di tengah malam dan temukan Hantu tapi berhati-hatilah dari keadaan dirasuki Hantu atau Setan!! Jika anda menemukan sosok yang mengerikan yang tidak dapat disentuh. Tekan Baketan dan lindungi diri dengan safe modenya.

Thank you for carefully reading our explanation of this product. So far, you may feel doubt for Baketan’s Ghost-detecting function. But trust it, it works based on Mathmatical, Meteorological and Technological calculations.
Terima kasih telah membaca dengan seksama penjelasan kami atas produk ini. Sejauh ini, anda mungkin meragukan kemampuan mendeteksi hantu dari Baketan. Tapi percayalah, cara kerja alat ini berdasarkan pada perhitungan matematika, meteorologi dan teknologi.

 CARA MENGGUNAKAN BAKETAN
When you press the center button, it searches ghost/paranormal atomosphere or phisically-or-practically-undefined object.
Saat anda menekan tombol tengah, alat tersebut mencari hantu/keadaan paranormal atau obyek yang hampir tidak terdefinisi secara fisik.

The result comes out in few seconds. If it beeps with blinkings of urgent red signal, there must be something unusual. There might be a ghost there or need to step out of the place you stand. In that case, please keep pressing the center button, Baketan changes the function to Safe-Mode.
Hasilnya akan tampak dalam beberapa detik. Jika alat berbunyi beep dengan mengedipkan sinyal merah darurat, pasti ada sesuatu yang tidak wajar. Mungkin ada sosok hantu disana dan anda harus keluar dari sana. Jika hal tersebut terjadi, tetaplah menekan tombol tengah, Baketan merubah fungsinya menjadi Safe-Mode.

INDIKATOR (WARNA) LAMPU BAKETAN

 Jika Indikator BAKETAN berwarna:

 Merah
, artinya ada Energi negatif (hantu) di sekitar anda.

 Biru, artinya ada Energi Positif yang melindungi anda.
 Warna lain, artinya tidak ada gejala Metafisika.

In Safe-Mode, it gives out barrier to protect you from ghost. Also even if you don’t push the search button, it ocasionally works and searches on your behalf.
Pada Safe-Mode, memberikan penghalang untuk melindungi anda dari hantu. Bahkan meskipun anda tidak menekan tombol pencari, alat sesekali bekerja dan mencari sesuai dengan kehendak anda.

These things are main instructions and I belive you understand all above things and enjoy your ghost-search! Oh Creepy!
Semua ini adalah instruksi utama dan saya percaya anda mengerti kesemuanya dan selamat menikmati pencarian hantu anda! Oh menyeramkan!

Ghost Detector uses complex algorithms to analyse the sensor data, add biometric feedback from your skin, and pattern-match the real-time energy dispersion.
Pendeteksi Hantu menggunakan algoritma yang komplek untuk menganalisa data penyensor, menambahkan respon biometrik dari kulit anda, dan pencocokan pola penyebaran energi secara nyata.

Ghost Detector locates ghosts, spirits, and other entities. Its sensors detect and combine any significant related changes in electro-magnetic turbulence, heat, light, and biometrics which are believed to accompany any mysterious apparitions.
Pendeteksi Hantu menemukan hantu, arwah, dan sesuatu lainnya. Sensornya mendeteksi dan menggabungkan beberapa perubahan yang berarti pada turbulensi (medan) electro-magnetic, panas, cahaya, dan biometrik yang dipercaya dapat menunjukkan keberadaan (hantu) yang misterius.

Ghost Detector has been developed by Solid Alliance and GRX, a virtual organisation that investigates energy fields and the paranormal.
Pendeteksi Hantu dikembangkan oleh Solid Alliance dan GRX, sebuah organisasi virtual yang meneliti medan energi dan paranormal.

DARI :

http://www.indospiritual.com

Dunia Hantu
Rabu, 14 November 2007 | 14:44 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:
Kaki kanannya mulai terangkat dan mengambang. Dengan susah payah mereka berusaha dipijakkan kembali ke lantai. Empat gadis muda itu tengah dicabut nyawanya. Dengan tubuh yang bergetar kencang, mereka seolah menentang kuasa sang pencabut nyawa. Namun, akhirnya tubuh para penari itu terempas. Mereka mati.

Tak enak jadi hantu. Tidak punya tubuh, ringan, dan sering teringat masa lalu. Empat penari dengan pakaian modern itu bangkit. Dalam sekat ruang yang tidak terlihat, mereka saling bertabrakan. Tak jarang tubuh yang satu dengan lainnya terempas. Kepanikan pun terjadi ketika mereka terdesak antara ruang manusia dan dunia arwah.

Tari kontemporer garapan koreografer asal Singapura, Angela Liong dan Elysa Wendi, itu dipentaskan pada Art Summit V di Taman Ismail Marzuki, Jumat dan Sabtu malam lalu. Karya kelompok The Arts Fission Co. bertajuk Gosh Exchange seri II berdurasi 75 menit ini menceritakan tentang hantu dan perubahannya dari zaman ke zaman.

Dalam pertunjukan itu, mereka turut pula dibantu penari Indonesia, yakni Muslimin Bagus Pranowo. Ia melakonkan orang kesurupan. Dengan dada telanjang, ia berputar-putar. Matanya membidik sesuatu. Ia sedang melihat hantu. Sesaat kemudian tubuhnya menggeliat Dan tangannya memberontak tak tentu arah. Muslimin sedang kesurupan. “Hantu akan masuk ke ruang yang kosong,” ujarnya.

Orang Cina percaya, bila barang duniawi berbahan kertas dibakar, barang tersebut akan sampai pada sang arwah. Seperti telepon seluler yang digunakan hantu ini ketika tiba-tiba pintu panggung yang semuanya berlatar hitam itu terbuka. Tampak sesosok hantu yang tengah menggunakannya. Ia sedang bercakap tanpa suara. Kepalanya mengangguk-angguk seperti mengerti sesuatu yang dibicarakan.

Kemudian semua mendadak gelap. Bahkan aura ketakutan penonton pun terasa di tiap sudut bangku. Dua bidik cahaya merah menyala di panggung. Tampak Bobbi Chen, Wu Yi Xin, dan Yan Xiang Yi keluar dengan gaun putih selutut. Dalam bagian yang berjudul In Transition ini dikisahkan perjalanan arwah menuju alam baka.

Para penari dengan mata yang hampa itu berusaha memberontak manakala kepalanya tertancap di lantai. Segala usaha dilakukannya agar dapat kembali berdiri. Usaha yang sia-sia karena takdir tidak dapat dielakkan. Kepasrahan itu ditandai dengan munculnya perempuan membawa payung bambu khas Cina. Ia memayungi para arwah menuju pintu akhirat yang telah terbuka di belakang panggung.

Tarian berciri kekinian ini diakhiri dengan berkumpulnya para arwah yang tengah membuka kotak besar di depan mereka. Enam penari berkumpul membuka kotak kehidupan mereka. Ternyata kotak itu berisi perhiasan dan aksesori dunia yang pernah mereka kenakan. Ada minyak wangi, ikat pinggang, kotak kaset, kalung, gelang, bros bunga, dan jenis lainnya. Dalam gelas dan piring plastik warna merah, mereka bersulang. Kemudian masing-masing sibuk mengambil bagiannya dan saling bertukar.

Tarian Angela kali ini diiringi dengan dialog antarbahasa, seperti bahasa Indonesia, Cina, dan Inggris, yang sengaja dibuat sebagai pengiring musik alunan Philip Tan, Alexina Louie, dan Henryk Mikolaj. Pertunjukan hantu ini merupakan seri keduanya, setelah tampil perdana dalam TranzDanz pada 2006 di Hungaria.

Arts Fission asuhan Angela ini memilih tema hantu untuk menjembatani keragaman kepercayaan akan hal itu. “Hantu sangat unik dan takkan pernah habis diceritakan,” ujar Elysa Wendi, asisten koreografi Angela, di belakang panggung.

AGUSLIA HIDAYAH

dari tempointeraktif.com

Anda adalah hantu, suka hantu, besok kalau sudah mati jadi hantu. Lalu keluar dari kubur beterbangan gentayangan ingin kembali ke dunia untuk menebus kembali dosa-dosa yang sudah diperbuat dan membayar kembali hutang-hutang yang belum di bayar.

Selamat datang di dunia hantu, VIVA HANTU,

Semoga hantu tetap jaya, jaya di laut di darat dan di udara